Tempat Kita Belajar Bersama Seputar Ilmu Pengetahuan, Jadikanlah Semua Hal di dunia ini sebagai renungan dan pembelajaran. "One Minute For Future Life"
Rabu, 13 Mei 2015
ALL ABOUT DISCOVERY LEARNING METHOD
(Dedicated for My Research Paper)
Pembelajaran dengan penernuan (Discovery Learning) merupakan suatu komponen penting dalam pendekatan konstruktivis yang telah memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Ide pembelajaran penernuan (Discovery Learning) muncul dari keinginan untuk memberi rasa senang kepada anak/siswa dalam "menemukan" sesuatu oleh mereka sendiri dengan mengikuti jejak para ilmuwan. (Nur 2000).
Discovery learning (pembelajaran penemuan) memungkinkan siswa untuk bergerak pada ketiga tahapan tersebut di atas saat mereka berhadapan dengan informasi-informasi baru. Pertama-tama siswa akan memanipulasi dan berbuat sesuatu terhadap bahan-bahan; kemudian mereka akan membentuk gambar-gambar saat mereka mencatat ciri-ciri khusus dan melakukan observasi. Karena siswa mengalami ketiga tahap tersebut di atas, Brunner yakin siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang suatu topik. Saat siswa termotivasi dan benar-benar berpartisipasi di dalam proyek penemuan (discovery project), pembelajaran penemuan atau discovery learning akan membawa pada proses belajar yang sangat baik (Strike, 1975).
Pembelajaran penernuan dibedakan menjadi 2, yaitu pembelajaran penemuan bebas (Free Discovery Learning) atau sering disebut open ended discovery dan pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery Learning) (UT 1997). Dalam pelaksanaannya, pembelajaran penernuan terbimbing (Guided Discovery Learning) lebih h banyak diterapkan, karena dengan petunjuk guru siswa akan bekerja lebih terarah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Namun bimbingan guru bukanlah semacam resep yang harus dlikuti tetapi hanya merupakan arahan tentang prosedur kerja yang diperlukan.
Carin (1993) memberi petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery Learning) sebagai berikut. a. Menentukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa: (1) Memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penernuan; (2) Menentukan lembar pengamatan data untuk siswa; (3) Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap; (4) Menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara berkelompok yang terdiri dari 2‑5 siswa; (5) Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa.
Blog dengan ID 33471 Tidak ada
Untuk mencapai tujuan di atas Carin (1993) menyarankan hal‑hal di bawah ini: (1) Membantu siswa untuk memahami tujuan dan prosedur kegiatan yang harus dilakukan; (2) Memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan dan prosedur kegiatan yang harus dilakukan; (3) Menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja yang aman; (4) Mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan; (5) Memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang digunakan; (6) Melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan.
Berikut beberapa saran tambahan berdasarkan pada pendekatan penemuan dalam pengajaran (Nur 2000): (1) Mendorong siswa mengajukan dugaan awal dengan cara mengajukan pertanyaan membimbing; (2) Menggunakan bahan dan permainan yang bervariasi; (3) Menggunakan sejumlah contoh yang kontras atau memperlihatkan perbedaan yang nyata dengan materi ajar mengenai topik‑topik terkait; (4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mernuaskan keingintahuan mereka, meskipun mereka mengajukan gagasan‑gagasan yang tidak berhubungan langsung dengan pengajaran; (5) Menggunakan sejumlah contoh yang kontras atau memperlihatkan perbedaan yang nyata dengan materi ajar mengenai topik‑topik terkait
Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Discovery Learning
1. Langkah Persiapan
Langkah persiapan model pembelajaran penemuan (discovery learning) adalah sebagai berikut:
Menentukan tujuan pembelajaran
Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya)
Memilih materi pelajaran.
Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa
Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
2. Pelaksanaan
a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
b. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)
c. Data collection (Pengumpulan Data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi
Penilaian Pada Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)
Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes.
Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan.
Sources : http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/
Selasa, 24 Maret 2015
MERESAPI LAGU HALANGAN DIRI VOC.ALM.DARSO
MERESAPI LAGU ALM.DARSO MEMBUAT KITA INTROSPEKSI DIRI
HALANGAN DIRI
Voc.H.DARSO
NA KUNAON SAGALA RUPA
NGAN ARAL,GAGAL JEUNG GAGAL
SOAL CINTA JEUNG USAHA
KANDAS PAMAKSADAN
KAMUDAHAN BEUT NGABALIEUR
KALAH KA NGAN NARONGGONGAN
PARUNTUNGAN
LUMPAT NGAJAUHAN
NAHA-NAHA KUNAON
REFF##
BOA-BOA HALANGAN DIRI
NU MANGRUPI DOSA-DOSA
KAJONGJONAN,..KANGENAHAN
NGUMBAR-NGUMBAR LARANGAN
BOA-BOA HALANGAN DIRI
NU MANGRUPI DOSA-DOSA
NU NGAJAJAR MEUNI PANJANG
SAPANJANG JALAN KARETA
ADUH GUSTI ADUH GUSTI KUMAHA NGAENTENGKEN NANA*
ADUH GUSTI ADUH GUSTI KUMAHA NGABEBASKEUNA
PANON CIREUMBAY,MAPAY MAPAY PIPI
RAGRAGAN KANA SAJADAH
NGINGET NGINGET LAKU LAMPAH
NINGGANG SALAH JEUNG SALAH
HATE ANU MELIT
HATE ANU NGAJERIT
KABEULIT KU DOSA DOSA
BIWIR ANU NGAGETEUR NGEDALKEUN RASA NGIWAT
AMPUN-AMPUN DUH GUSTI
HALANGAN DIRI
Voc.H.DARSO
NA KUNAON SAGALA RUPA
NGAN ARAL,GAGAL JEUNG GAGAL
SOAL CINTA JEUNG USAHA
KANDAS PAMAKSADAN
KAMUDAHAN BEUT NGABALIEUR
KALAH KA NGAN NARONGGONGAN
PARUNTUNGAN
LUMPAT NGAJAUHAN
NAHA-NAHA KUNAON
REFF##
BOA-BOA HALANGAN DIRI
NU MANGRUPI DOSA-DOSA
KAJONGJONAN,..KANGENAHAN
NGUMBAR-NGUMBAR LARANGAN
BOA-BOA HALANGAN DIRI
NU MANGRUPI DOSA-DOSA
NU NGAJAJAR MEUNI PANJANG
SAPANJANG JALAN KARETA
ADUH GUSTI ADUH GUSTI KUMAHA NGAENTENGKEN NANA*
ADUH GUSTI ADUH GUSTI KUMAHA NGABEBASKEUNA
PANON CIREUMBAY,MAPAY MAPAY PIPI
RAGRAGAN KANA SAJADAH
NGINGET NGINGET LAKU LAMPAH
NINGGANG SALAH JEUNG SALAH
HATE ANU MELIT
HATE ANU NGAJERIT
KABEULIT KU DOSA DOSA
BIWIR ANU NGAGETEUR NGEDALKEUN RASA NGIWAT
AMPUN-AMPUN DUH GUSTI
Menyimak Blog pernikahandanproblematikanya.blogspot.com/2013/10/problematika
PROBLEMATIKA
YANG MUNCUL DALAM KELUARGA
Masalah yang selalu muncul dalam
kehidupan berumah tangga adalah sesuatu yang wajar, karena disitulah dua
manusia yang berbeda sifat,watak dan mungkin prilaku disatukan, apalagi bagi
pasangan yang baru saja menikah, sudah pasti mereka akan banyak sekali
menemukan perbedaan-perbedaan yang mungkin tidak pernah mereka temukan
sebelumnya ketika masih menjalani masa ta’aruf dulu. Namun sebagai orang islam
kita harus bisa memperlakukan masalah tersebut sebagai sebuah pengalaman yang
sangat berharga yang akan menjadikan pedoman bagi kehidupan rumah tangga mereka
selanjutnya.
Adapun masalah yang sering muncul
dalam kehidupan berumah tangga adalah :
1. Cemburu yang berlebihan.
Sebenarnya untuk
menghindari pertengkaran-pertengkaran yang tidak diinginkan hendaknya pasangan
mampu menahan emosinya. Karena semua yang menyangkut emosi tidaklah baik pada
akhirnya, contoh seperti ketika anda mendengar pasangan anda mempunyai WIL/ PIL
dan seketika itu juga anda meluapkannya kepada pasangan anda tanpa memberikan
kesempatan bicara kepada pasangan anda maka yang terjadi adalah adu mulut yang
tidak berujung sehingga terjadi mis komunikasi dengan pasangan anda yang
nantutinya akan mengakibatkan perpisahan. Bicarakan semua dengan pasangan
tentang apa yang menjadi beban pikiran anda dengan kepala dingin. Niscaya semua
itu akan bisa mengatasi masalah yang anda hadapi.
2. Ekonomi yang belum stabil
Kerapkali uang adalah
pemicu pertengkaran, terutama bagi pasangan yang baru menikah. Salah satu dari
pasangan tersebut haruslah mampu memanag keuangan secara teratur, dan disini
isterilah yang berperan karena dia adalah pengatur segala urusan di rumah.
Sebagai isteri yang baik yang bisa diandalkan suami maka ia harus pandai-pandai
menggunakan uang tersebut sesuai budget yang ada, buatlah budget bulanan atau
mingguan dengan rapi, janganlah mengeluarkan uang melebihi budget, dahulukan
keperluan bulanan yang harus terlebih dahulu dipenuhi.
3. Perselingkuhan.
Dalam berumah tangga
buatlah komitmen dengan pasangan anda. Bicarakan sesuatu kemungkinan yang akan
terjadi, masalah apapun yang nantinya akan dihadapi hendaklah dibicarakan
baik-baik, jangan sampai perselisihan pendapat menjadi pemicu pasangan anda
untuk berpaling kepada yang lain.
4. Krisis moral/ krisis akhlaq.
Dalam memilih pasangan
hidup memang harus memperhatikan bibit, bebet dan bobot. Seperti yang telah
dibahas dalam “ 4 PILAR PENTING laitapun juga harus melihat pasangan dari segi
AGAMA, KETURUNAN, HARTA DAN KETAMPANAN. Namun yang lebih penting bagi pasangan
adalah melihat bagaimana agamanya. Sebab jika seseorang sudah mempunyai dasar
agama yang kuat maka dalam kehidupan rumah tangganyapun kelak akan selalu
didasari oleh nilai-nilai keagamaan. Bagaimana ia bersikap dan berprilaku pasti
akan sesuai dengan norma agamanya.
5. Campur tangan pihak ke tiga.
Dalam menjalani
kehidupan berumah tangga, antara suami dan isteri haruslah ada aturan untuk
tidak menceritakan segala persoalan/ permasalahan yang sedang terjadi dalam
rumah tangganya kepada orang lain, meskipun itu orangtua, saudara, teman
ataupun tetangga. Jika salah satu pasangan ada yang menceritakan permasalahan
rumah tangganya kepada orang lain maka suatu saat akan timbul bencana bagi
rumah tangga tersebut. Karena kehadiran orang lain (pihak ke tiga) yang ikut
campur tangan itu belum tentu tahu akar permasalahan yang sedang terjadi dalam
rumah tangganya, dan jika pihak ke tiga tersebut memihak salah satu dari suami
isteri tersebut maka akan menambah runyam permasalah yang sudah ada. Maka dari
itu jika anda menginginkan kehidupan rumah tangga yang bahagia sebisa mungkin
hindarilah pihak ke tiga. Seandainyapun diantara mereka membutuhkan bantuan
dari pihak ke tiga, hendaknya yang mampu untuk memberikan jalan keluar yang
terbaik dengan tidak memihak pada salah satu pasangan tersebut.
Demikianlah
masalah-masalah yang terkadang dihadapi dalam kehidupan berumah tangga. Namun
tidak ada satu pasanganpun yang bisa menghindari permasalahan-permasalahan
dalam rumah tangganya tersebut, jadilah orang yang bisa mengatasi segala
permasalahan dengan tidak mengandalkan emosi tetapi hadapilah dengan kepala
dingin dengan saling berkomunikasi dengan pasangan. Karena semua masalah itu
tidak akan muncul jika kita tidak mampu untuk mengatasinya, sebagaimana firman
Allah SWT. Bahwa Dia tidak akan membebankan suatu masalah kepada hambanya diluar
batas kemampuan hambanya tersebut.
َلايُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا
إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ
“Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya”
Senin, 23 Maret 2015
Mengenal Tokoh Pendidikan Jeremy Harmer
Jeremy Harmer
Writer at Freelance,
ELT writer, teacher, trainer and presenter. Music lover, singer, player. Spoken word performer.
- Cambridge, United Kingdom
- Writing and Editing
Writer at Freelance,
ELT writer, teacher, trainer and presenter. Music lover, singer, player. Spoken word performer.- Cambridge, United Kingdom
- Writing and Editing
| Current |
|
|---|---|
| Education |
|
He is a writer of books in the field of English Language Teaching. These include Methodology titles, course materials, and learner literature (often called graded readers).
He is a frequent presenter, seminar leader and teacher both in the UK and, more frequently, around the world.
As a teacher and trainer in the field of English Language Teaching (ELT) I have worked for International House, London, Eurocentre Bournemouth, Anglia Ruskin University, Cambridge, the Bell School, Cambridge, and at the Instituto Anglo Mexicano de Cultura (in Mexico DF, Ciudad Satellite and Guadalajara – where I was branch director for four years). The IAMC is now part of The Anglo Foundation.
Currently He work as an online tutor for the MATESOL at The New School, New York
Jeremy Harmer is one of the best known names in English language teaching and one of the people whose opinions help shape ELT. The author of award-winning books, his must-read titles include "How to Teach Writing" and "Essential Teacher Knowledge - Core Concepts in English Language Teaching."
He currently works as an online tutor for the MATESOL at The New School, New York. And this year you may have seen him at places as far from his native UK as Malta and Uruguay. He's also a musician and...well, the list goes on.
With all of those hats to wear, Jeremy spends a lot of time traveling around the world. So it was with some difficulty that I managed to pin him down long enough to do a brief interview. Here it is.
Minggu, 22 Maret 2015
Jerome Bruner: a
learning theorist
Who is Jerome Bruner?
Learning theorist
Associated with the
Constructivism view of learning
Originated Discovery
method of learning.
Who is Jerome Bruner?
1915: Born in NYC
In WW2 worked for
U.S. Army intelligence reviewing the effectiveness of propaganda.
1947 : Ph. D. ,
Psychology from Harvard
Positions on
faculties of Harvard, Oxford, and currently NYU
Founded Center for
Cognitive studies with Leo Postman
Who is Jerome Bruner?
rooted mainly in the
study of cognition
Reacted against
behaviorist model of learning
founded “New Look”
movement in psychology
Change from
behaviorist model
What ideas and
influences are associated with Bruner?
1. Constructivism
paradigm of learning
learners create their
own subjective constructs of reality
What ideas and
influences are associated with Bruner?
Other Constructivists
include Piaget, Vygotsky and Dewey.
Builds on the concept
of stages of development (Piaget)
Environment has
bigger role in learning development.
"any subject can
be taught effectively in some intellectually honest form to any child at any
stage of development.“ The Process of Education (1960)
What is
Discovery learning?
Learner builds on
past experience
Students interact
with environment
Discovers facts and
relationships on own
Students create own
construct of knowledge through narrative
Advantages of Discovery
Learning
active engagement
promotes motivation
Promotes ownership of
learning
the development of
creativity and problem solving skills.
a tailored learning
experience
Criticisms of discovery
learning
Too much information
(cognitive overload)
Often requires vast
resources unavailable in traditional classroom.
Lack of teacher
control
Potential
misconceptions
Teachers may fail to
recognize misconceptions
Examples of discovery
learning
learning with and
through narratives
case-based learning
guided discovery
problem-based
learning
simulation-based
learning
incidental learning
Importance of
Narrative
What are the roles of
narratives in the following narrative?
How is this an
example of discovery learning?
Repairing Photocopiers
When I arrived at
Xerox, back in the 1980s, the company was spending millions and millions of
dollars a year training its 23,000 "tech reps" around the world-the
people who repair its copiers and printers. Lots of that training-it was like
classroom instruction seemed to have little effect. Xerox wanted me to come up
with some intelligent-tutoring or artificial-intelligence system for teaching
these people troubleshooting. Fortunately, before we did so, we hired several
anthropologists to go live in their "tribe" and see how they actually
worked.
What the
anthropologists learned surprised us. When a tech rep got stuck by a machine,
he or she didn't look at the manual or review the training; he or she called
another tech rep. As the two of them stood over the problematic machine, they'd
recall earlier machines and fixes, then connect those stories to a new one that
explained some of the symptoms. Some fragment of the initial story would remind
them of another incident, which suggested a new measurement or tweak, which
reminded them of another story fragment and fix to try, and so on.
Troubleshooting for these people, then, really meant construction of a
narrative, one that finally explained the symptoms and test data and got the
machine up and running again. Abstract, logical reasoning wasn't the way they
went about it; stories were.
This article was
originally published in Change,
Growing Up Digital, March/April 2000, pp 10-20. It is reprinted with the
author's permission and permission of the Helen Dwight Reid Educational
Foundation. It was published by Heldref Publications, 1319 18th Street, NW, Washington, DC
20036-1802. Copyright © 2000.
Websites consulted
Kearsley, G (2008).
Constructivist theory. Retrieved February 14, 2008, from Explorations in
Learning and Instruction Web site: http://tip.psychology.org/bruner.html Jerome
Seymour Bruner. (2006).
In Encyclopedia
of World Biography
[Web]. Thompson Gale. Retrieved 2/18/2008, from
http://www.bookrags.com/biography/jerome-seymour-bruner/
Learning Theories
Knowledgebase (2008, February). Discovery Learning (Bruner) at
Learning-Theories.com. Retrieved February 18, 2008 from
Bruner, , Jerome S.
(2001). In Gale encyclopedia of Psychology [Web]. Retrieved
2/18/2008, from
http://findarticles.com/p/articles/mi_g2699/is_0000/ai_2699000048
Thousand Years
Belakangan Ini Lagi Seneng Dengerin ....
A
Thousand Years
Christina Perry
Christina Perry
Heart
beat fast
Colors
and promises
How
to be brave
How
can I love when I’m afraid
To
fall
But
watching you stand alone
All
of my doubt
Suddenly
goes away somehow
One
step closer
(Chours)
I
have died every day
Waiting
for you
Darlin’
don’t be afraid
I
have loved you for a
Thousand
Year
I’ll
love you for a
Thousand
more
(Verse
2)
Time
stands still
Beauty
in all she is
I
will be brave
I
will not let anything
Take
away
What’s
standing in front of me
Every
brave
Every
hour has come to this
One
step closer
(Chours)
I
have died every day
Waiting
for you
Darlin’
don’t be afraid
I
have loved you for a
Thousand
years
I’ll
love you for a
Thousand
more
And
along I believed
I
would find you
Time
has brought
Your
heart to me
I
have loved you for a
Thousand
years
I’ll
love you for a
Thousand
more
One
step closer
One
step closer
(Chours)
I
have died every day
Waiting
for you
Darlin’
don’t be afraid
Thousand
years
I’ll
love you for a
Thousand
more
And
all along I believed
I
would find you
Time
has brought
Your
heart to me
I
have loved you for a
Thousand
years
I’ll
love you for a
Thousand more
Langganan:
Postingan (Atom)








